Cerita Rival Toni Syafrudin Mencoba BMX
Kacainfo1001, Jakarta
Maris Strombergs tidak pernah berpikir menjadi atlet sepeda BMX.
Perkenalan Maris dengan olahraga ekstrim karena terpaksa setelah sang
Ayah, membawa ke lintasan pada usia 5 tahun. Ketakutan sempat
menghampiri juara dunia BMX tiga kali itu.
Bentuk lintasan dengan tikungan tajam dengan gundukan menjulang memungkinkan para pembalap melompat tinggi, membuat Maris yang masih bocah ketakutan. Tapi kemudian, Maris mencoba hingga jatuh hati hingga menjadi pembalap besar.
"Ketika pertama kali melihat BMX, jujur, saya langsung pergi. Saya
berusia lima tahun ketika Ayah mengajak ke lintasan BMX.
Pesepeda melompat tinggi berkali-kali. Saya lantas menangis," kata
Maris mengenang cerita masa lalu. Dia kemudian berkata kepada Ayah,
BMX sama sekali tidak menarik minatnya. "Tapi satu bulan kemudian, saya
berkata kepada dia 'OK, saya akan mencoba."
Menurut Maris, sang Ayah berada di balik sukses besar merebut dua medali emas Olimpiade. Dia terus membakar semangat Maris menjadi atlet hebat. "Saya memenangkan kejuaraan dunia pertama ketika berusia 9 tahun. Itu pertandingan resmi UCI di Inggris pada 1996. Setelah itu, secara alami, tidak ada jalan bagi saya kembali (keluar dari BMX)."
Balap sepeda BMX pertama kali masuk agenda Olimpiade pada 2008. Maris langsung menjadi juara 8 tahun lalu, atlet 29 tahun ini meraih emas setelah mengalahkan dua atlet Amerika Serikat, Mike Day dan Donny Robinson. Empat tahun kemudian, pada Olimpiade 2012 di London, Maris kembali menjadi yang terbaik.
Maris berhasil mendapatkan medali emas untuk kali kedua setelah mengalahkan Sam Willoughby asal Australia dan Carlos Oquendo dari Kolombia. Praktis, Maris menjadi satu-satunya atlet BMX yang berjaya di Olimpiade sejauh ini dengan dua emas.
Kini menatap Olimpiade 2016, embalap sepeda asal Latvia ini datang ke Olimpiade Brasil dengan status sebagai juara bertahan. Dia mengaku tidak mudah mengulang sukses seperti dua Olimpiade sebelumnya. "Sangat sulit untuk mewujudkan harapan itu. Tekanan sebagai juara bertahan sangat besar."
Bentuk lintasan dengan tikungan tajam dengan gundukan menjulang memungkinkan para pembalap melompat tinggi, membuat Maris yang masih bocah ketakutan. Tapi kemudian, Maris mencoba hingga jatuh hati hingga menjadi pembalap besar.
Menurut Maris, sang Ayah berada di balik sukses besar merebut dua medali emas Olimpiade. Dia terus membakar semangat Maris menjadi atlet hebat. "Saya memenangkan kejuaraan dunia pertama ketika berusia 9 tahun. Itu pertandingan resmi UCI di Inggris pada 1996. Setelah itu, secara alami, tidak ada jalan bagi saya kembali (keluar dari BMX)."
Balap sepeda BMX pertama kali masuk agenda Olimpiade pada 2008. Maris langsung menjadi juara 8 tahun lalu, atlet 29 tahun ini meraih emas setelah mengalahkan dua atlet Amerika Serikat, Mike Day dan Donny Robinson. Empat tahun kemudian, pada Olimpiade 2012 di London, Maris kembali menjadi yang terbaik.
Maris berhasil mendapatkan medali emas untuk kali kedua setelah mengalahkan Sam Willoughby asal Australia dan Carlos Oquendo dari Kolombia. Praktis, Maris menjadi satu-satunya atlet BMX yang berjaya di Olimpiade sejauh ini dengan dua emas.
Kini menatap Olimpiade 2016, embalap sepeda asal Latvia ini datang ke Olimpiade Brasil dengan status sebagai juara bertahan. Dia mengaku tidak mudah mengulang sukses seperti dua Olimpiade sebelumnya. "Sangat sulit untuk mewujudkan harapan itu. Tekanan sebagai juara bertahan sangat besar."










